Rabu, 19 Juni 2013

Masih pantaskah disebut dan menyebut diri; Aktivis Dakwah?


"kok jadi ane yang ngelakuin semuanya?
yang lain gak ngapa-ngapain..."
demikian kalimat yg sering meluncur di sebagian mahasiswa yang mengaku aktivis dakwah kampus (ADK) dalam beberapa kesempatan yg pernah saya temui, tidak hanya satu dua kali, tapi sering.
Dan teringat nasihat dari seorang kawan:




Di jalan ini…
Nuh AS telah tua renta.
Ibrahim AS di bakar dan di usir kaumnya.
Yusuf AS menjadi budak, difitnah dan masuk penjara.
Musa AS dihina, diusir dan dikejar firaun dan bala tentara.
Zakaria AS diusir, dikejar dan digergaji dibelah dua.
Isa AS dikejar-kejar dan hendak disalib para durjana.
Muhammad SAW dicaci, dihina, dituduh tukang sihir dan gila, ituduh penipu, pembohong dan diusir dari negerinya Mekah.

Umar RA ditikam saat menjadi imam shalat shubuhnya.
Ustman RA dibunuh dalam tilawah dan saat shaumnya.
Ali RA juga dibunuh oleh khawarij yang tercela.
Hamzah syahid dengan perut terburai dada menganga.
Zaid syahid dengan terputus kedua tangannya.
Khalid bin Walid wafat di tempat tidur dan lebih 70 luka tergores di bagian depan tubuhnya selama mengikuti perang.

Imam Ahmad disiksa dan diseret dengan kuda.
Hasan Albanna syahid ditembak di depan menantunya.
Sayid Qutb syahid di tiang gantungan setelah dipenjara.
Syekh Ahmad Yasin dengan rudal menghabisi nyawanya.
KH. Ahmad Dahlan, membangun muhammadiyah juga dengan difitnah dan dihancurkan mushola-nya
KH. Hasyim Asy'ari, mengobarkan semangat jihad dan Ia juga pernah ditawan.

Banyak lagi hamba-hamba Allah yang mulia.
Yang mengorbankan jabatan, harta dan keluarga.
Mengorbankan harga diri dan kesucian jiwa..
Difitnah, dicaci, dihinakan di berbagai media...
Mendekam dalam kamar-kamar penjara..
Menjemput ajal mati meregang nyawa...


Ya, di jalan ini mereka semua menjadi mulia...
Lalu kita..? Masihkah keluhkesah mendera..?
Lalu masih pantaskah disebut dan menyebut diri;


Aktivis Dakwah?




Sumber: Achmad Fahmi


Senin, 10 Juni 2013

mengapa?






kemarin, tanggal 9 Juni 2013 setelah training leadership dari IT saya memutuskan ke pameran komputer JEC. Seperti biasa, saya sendirian ke pameran. Sudah kebal bila bertemu teman dan mereka menyapa "sendirian dev? kayak anak hilang hehehe"

niatnya sih mau beli modem, tapi ragu-ragu karena USB laptop saya sedang rusak :( akhirnya mengurungkan niat beli modem dan mulai mencari stand Acer, berpikir siapa tau ada penjaga stand yang mau bantu benerin laptop saya. Stand Acer ada di paling depan dan kebetulan banyak mas-mas penjaga.

"Maaf Mas, boleh nanya nggak?"

"Boleh Mbak, mau nanya apa?"

"USB laptop saya kok nggak bisa detect flashdisk kenapa ya?"

setelah agak lama nanya-nanya akhirnya tau penyebabnya, windowsnya kena VIRUS T^T dan karena saya pake windows ori, jadi install ulang agak lama dan mahal, wah jadi serba salah ya pakai windows ori. Huhu :”

"tunggu 2 jam ya Mbak?"

"wah lama banget, oke saya tinggal aja ya Mas"

...dan saya pergi ke Musholla JEC untuk 'menenangkan diri'...
disana belum adzan maghrib, tapi nggapapalah siap-siap.

***

Setelah shalat Maghrib, saya duduk di pojok Musholla sambil tilawah, karena mukena disana terbatas sedangkan jama'ah yg datang semakin banyak, saya meminjamkan mukena saya ke seorang Ibu..

saya masih tilawah, dan tiba-tiba ibu yang pinjem mukena datengin saya lalu duduk disamping saya..

"Mbak, boleh pinjem Qur'annya?"

"oh boleh sekali Ibu, silakan :)"

"makasih ya Mbak, saya kalau habis maghrib belum tilawah rasanya ada yg kurang, kebetulan ikut ngisi stand dan tadi lupa bawa Qur'an."

(kemudian saya malu)

Setelah beliau membaca Qur'an, beliau mengembalikannya dan mulai ngobrol dengan saya...

"kuliah dimana, Mbak?"

"UGM, Bu.."

"kalau anak saya di UII, tapi belum serajin Mbak yang bawa Qur'an gini kemana-mana"

(astaghfirullaah, ALLAH Yang Maha menutupi aib-aib saya)

"ah kebetulan aja kok Bu ini lagi bawa, hehe"

"saya mulai rajin baca Qur'an sejak saya darah tinggi dan dirawat di RS berhari-hari Mbak"

"lho, Ibunya nggak gemuk kok darah tinggi?"

"saya memang nggak gemuk Mbak, tapi saya dulu pernah mengalami masalah yg luar biasa hebat"

...dan dari sini Ibu tsb mulai menceritakan kehidupannya di Bandung, dari awal beliau merintis usaha, mempunyai rumah mewah, banyak mobil hingga suatu hari usahanya bangkrut, dan suaminya dipenjara karena tidak mampu melunasi hutang... MasyaALLAH, sungguh saat itu hati saya bergetar, disaat seperti itu, saudara-saudara beliau bahkan orangtua beliau meninggalkan beliau karena malu dan tidak mau kenal lagi..

si Ibu yang dulunya jauh dari ALLAH karena kenikmatan dunia, mulai mendekat kepada ALLAH... Saat suaminya dipenjara, beliau mencari rizki sendiri dan sering mendatangi masjid-masjid untuk mengadu kepada ALLAH. Ibu itu sadar bahwa selama ini beliau belum ikhlas dan hanya mengharapkan bantuan manusia. Ya begitulah, jika kita berharap pada manusia, pasti kecewa...

Beliau pindah ke Jogja beberapa tahun lalu, hanya mengontrak di ruangan 4x6 meter. Dan Alhamdulillaah saat ini beliau sudah mempunyai 2 toko komputer. Usaha dari NOL, usaha yang dibangun dengan rasa ikhtiar yang lebih-lebih kepada ALLAH :') ah luarbiasa!

"bisa membayangkan Mbak, bagaimana rasanya jika dulunya serba mewah lalu tiba-tiba tinggal di kontrakan sempit hanya beralaskan tikar? saya mulai membangun usaha lagi dari awal. dari NOL, dan saya membangunnya dengan rasa tawakal kepada ALLAH.."

JLEB... mata saya mulai memerah dan hidung memanas, tapi saya tahan agar tidak menangis..

cerita itu berlanjut seiring jama'ah yang lalu lalang untuk shalat, mungkin banyak jama'ah yang heran melihat Ibu itu menangis disamping saya.
Namun saat itu kami tidak perduli, kami sedang membicarakan ALLAH, kami sedang berbicara tentang rencana-NYA yang begitu indah, tentang bagaimana cara ALLAH menyadarkan hamba-NYA untuk kembali kepada-NYA dengan cara yang luar biasa...

saya merasa bersyukur laptop saya diservis di JEC, kalau tidak diservis mungkin saya tidak menunggu di pojok Musholla dan ibu tersebut tidak berbagi hikmah pada saya.
Ah, sejatinya semua kejadian telah diatur ALLAH dengan indah. Bahkan daun gugur dimalam hari yang gelap gulita tak luput dari-NYA. AllahuAkbar! :’)

diakhir pertemuan itu, saya hanya berbicara sedikit,

"terimakasih atas pelajaran yang begitu berharga ya Bu, saya tidak tau mengapa kita dipertemukan disini, dirumah ALLAH. Saya hanya yakin, pertemuan ini atas izin ALLAH. Semoga Ibu selalu diberi kekuatan iman dan semakin dekat dengan ALLAH."

***

saya bersyukur sekali, beberapa kali bertemu dengan orang-orang baru namun entah mengapa mereka begitu mudah menceritakan kehidupannya kepada saya.
Sebulan yang lalu, saya berkenalan dengan seorang mahasiswi UGM di sebuah bus. Dan entah mengapa setelah beberapa menit ngobrol beliau bercerita tentang pekerjaannya, keluarganya, Ayahnya yang sakit keras dan sudah meninggal, Ibunya yang setiap minggu minta ditransfer uang untuk kehidupan sehari-hari... disaat mahasiswa yang lain mengeluhkan kiriman dari orangtua yang belum datang, beliau kuliah sambil bekerja keras demi menransfer uang kepada keluarganya. Ma syaa Allah...

Yaa Rabb, hamba percaya semua telah KAU atur dengan sangat rapih. Terimakasih atas pertemuan-pertemuan berhikmah dari hamba-MU yang lain. Kau Maha Cinta dari Segala Maha :')






menyibukkan diri...

"Cinta sejati selalu datang pada saat yang tepat, 

waktu yang tepat, dan tempat yang tepat. 

Ia tidak pernah tersesat."

-Tere Lije, buku "Berjuta Rasanya"


 Maaf, saya tidak sedang galau.

hanya ingin mengajak untuk menyibukkan diri, memperbaiki diri.

sangat diperbolehkan ikhtiar memang,

 

tapi menurut saya.. kebanyakan ikhwah sekarang hanya bergalau ria "kenapa belum juga?" apalagi saat teman-temannya yang lain mulai "membina keluarga"

 saya merasakan, betapa lingkungan ini sangat mendukung ke arah sana, apalagi saat kajian. Sepertinya sudah lazim apabila pembicara selalu mengaitkan materi dengan "pernikahan". dan lagi-lagi membuat kami tersenyum manis sedang hati teriris.

 

yah begitulah, mari muhasabah diri.. bukankah lebih menyenangkan bila kita sibuk "memperbaiki akhlak kita, belajar bagaimana menjadi istri atau ibu yang baik" bukan memikirkan tentang "siapa".

 

yakinlah, ALLAH telah mencatat jodoh kita sejak DIA meniupkan ruh ke rahim Ibu kita. come on! say no to galau yaaa ^^




Minggu, 26 Mei 2013

Youth Environmental Leader Summit 2013



Alhamdulillah, tanggal 16-19 Mei lalu berkesempatan mengikuti acara Youth Environmental Leader Summit 2013 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

Bersyukur sekali rasanya dapat kesempatan bertemu dengan orang-orang yang begitu menginspirasi saya :) walaupun dulu daftar acara ini H-2 jam penutupan, bikin esainya pun buru-buru karena ada kuliah. Tapi rizki memang tak kemana. Alhamdulillah lolos! 

Acara ini merupakan sebuah konferensi selama sekitar 4 hari di Surabaya, pesertanya sebanyak 92 pemimpin muda di bidang lingkungan Se-Indonesia, mulai dari Universitas Negeri Medan, sampai dengan Universitas Hasanudin Makassar.

Tanggal 16-18 Mei para peserta melakukan pelatihan di Pusat Perlindungan Lingkungan Hidup Seloliman Mojokerto. Aaaaaakkk this is one of the most beautiful place that I ever visited \(^.^)/

 

 

Gimana enggak, semua penuh pohon dan gemericik air. Makanannya berasal dari tempat itu juga, dari nasi, lauk, sayur, sampai sabun pencuci tangan dari asem. Briliant \(^.^)/ 

Semoga suatu saat bisa ke Surabaya lagi, walaupun agak panas tapi saya sangat mengagumi pohon-pohon di sekitar jalan raya yang begitu rimbun...


YELS 2013,
GO GREEN AND BE ENVIRONMENT!!!


-peserta YELS dari UGM ada 10 orang-

 

Jumat, 22 Maret 2013

LASKAR BEM KM UGM 2013


LASKAR BEM KM UGM 2013




Hari Jum’at-Minggu tanggal 22-24 Februari 2013 lalu akan menjadi salah satu hari yang tak terlupakan, hari yang menurutku menuai banyak hikmah di dalamnya, hari yang membuatku belajar arti perjuangan, rasa syukur, kegigihan, kejujuran, kedisiplinan, kesabaran, dan keikhlasan.
Dimulai dari rasa semangatku untuk mengikuti Laskar (Latihan Dasar Kepemimpinan) BEM KM UGM, sejak Technical Meeting Laskar aku menjadi salah satu anggota kelompok yang paling rajin membahas tugas, nge-sms anggota lain, dan mengerjakan tugas kelompok.
Namun ALLAH menguji semangatku dengan memberikan masalah satu-per-satu. Masalah pertama, mulai dari anggota kelompok yang mengundurkan diri ikut Laskar. Hari Jum’at siang, saat pulang kuliah aku sempatkan melihat pengumuman ALDC (Astra Leadership Development Challege), sebuah pelatihan training untuk mahasiswa UGM semester 2-4 selama sebulan. Alhamdulillah, aku lolos seleksi I (CV screening) bersama 79 pendaftar lain. Namun siapa sangka bahwa tahap seleksi II (FGD dan interview) akan dilaksanakan hari Minggu, 24 Februari 2013. Just a little shock. Oke, mulai panik. Galau. Aku harus ikut yang mana? Laskar atau seleksi ALDC? Laskar dilaksanakan di Waduk Sermo Kokap Kulonprogo, sedangkan ALDC dilaksanakan di UGM. Dua tempat yang menurutku berjarak jauh. Which one that I should choose?
Jum’at jam 2 siang aku masih galau di kamar. Aku belum packing, dan mulai sms ke pemandu Laskar untuk dicarikan solusi masalahku. Setelah melewati masa galau akut selama beberapa jam, aku memutuskan berangkat ke Gelanggang untuk ikut Laskar. Saat itu, aku nggak bawa makan malam dan belum nge-print Life Mapping. Mulai panik (lagi). Baca istighfar, tarik nafas dan ucapkan All iz well. Akhirnya ke Food Court mau beli makan malam, eh disana ketemu Tia (teman satu kelompok) yang bilang juga nggak bawa makan malam dan ditawari makan roti aja. Oke, nggak jadi beli. Pas balik jalan ke Gelanggang, aku lewat ruang UKM Pramuka, nggak sengaja liat ada printer, tiba-tiba otak bersinar “cling”.
*ketok pintu*
“Maaf kak, saya boleh minta tolong numpang nge-print nggak?”, kataku pada mas-mas yang ada di dalam ruang.
“Oh boleh-boleh, sini masuk aja dek.”
            Setelah beberapa menit nunggu, Life Mapping udah ditangan. Bahagia. ALLAH Maha Baik. Menjelang keberangkatan Laskar, aku mulai bingung nasib motorku mau digimanain. Peserta menuju lokasi harus naik truk. Tiba-tiba salah satu kakak panitia (kayaknya Koor pemandu) mendatangi aku,
“Kamu yang besok Minggu mau izin itu ya dek? Motornya dimana?”
“iya kak, motor saya disitu” (nunjuk kedepan)
“kunci sama STNK nya mana? Nanti biar motornya dibawa panitia.”
Huah, alhamdulillah. ALLAH Maha Baik. *ngasih kunci dan STNK ke kakaknya*
Kira-kira jam 16.30 peserta diminta naik ke truk yang ada di depan Gelanggang. Disana ada 3 truk, truk pertama dan kedua untuk peserta putra, dan truk ketiga untuk peserta putri. Karena pakai rok panjang, aku agak kesusahan naik ke truk yang tinggi, tapi alhamdulillah bisa. ALLAH Maha Baik. Tiba-tiba panitia meminta 15 peserta putri turun dari truk. Aku yang saat itu di posisi belakang nggak mau ikut turun karena pakai rok panjang. Setelah 15 anak itu turun, mereka diminta pindah ke truk kedua; truk peserta putra. Alhamdulillah, bersyukur banget nggak ikut turun. ALLAH Maha Baik.
Perjalanan ke Waduk Sermo naik truk kemarin benar-benar nggak akan terlupakan, di sepanjang jalan sering diwarnai jeritan peserta putri karena keadaan truk yang bergoyang-goyang. Salah satu hal menarik saat berada di truk adalah saat ada peserta lain yang mengajak aku berkenalan, namanya mbak XXXXX angkatan 2011. Setelah beberapa menit ngobrol, tiba-tiba beliau bertanya
“Kamu emang pakai rok panjang terus ya?”
“ha? Iya. hehe”
“Kenapa kok pakai rok panjang?”
“karena......”
*setelah beberapa menit ngobrolin tentang menutup aurat...*
“okedeh, besok sekali-kali aku belajar pakai jilbab ke kampus, hehe“
Jadi intinya, beliau belum mau pakai jilbab (menutup aurat) karena takut kelihatan jelek, takut nggak disukai cowok (masih mau pacaran). Lho, kalau memang laki-laki itu baik, harusnya dia lebih menyukai perempuan yang berjilbab. Iya nggak? B)
Entah perjalanan sampai dimana, tiba-tiba turun hujan. Great! Langsung narik terpal di depan truk buat ‘payung’ (yang mungkin biasanya buat nutupin sapi).
“Ini masih berapa lama lagi mas?”, tanya temen ke mas-mas yang jagain di belakang.
“ya kira-kira 40 menit lagi”.
What? 40 menit? Aku kira 10 menit lagi udah sampe.
Dan makin lama langit makin gelap. Bisa bayangin nggak, naik truk+hujan+ditutupin terpal+gelap+nglewatin jalan yang naik-turunnya subhanallah... sepanjang perjalanan aku nggak berhenti dzikir. Gelap! Apalagi kalau truk tiba-tiba berhenti dan masnya bilang: siap-siap jalannya naik. Takut kalau tiba-tiba truknya nggak kuat naik atau gimana. Lengkap sudah sensasinya. Selama itu pula aku sempat berpikir: ini jalan di dunia seserem ini, nah besok kalau nglewatin jembatan Shirat juga ngeri banget. MasyaAllah.
Setelah beberapa jam ngerasain sensasi yang luaarr biasa, akhirnya sampai juga! Bener-bener bersyukur & lega banget bisa turun dari truk. Tapi nggak sampai disitu, buat sampe lokasi Laskar kita harus jalan naik –lumayan bisa bakar kolesterol.
Sekitar jam 19.00 kita antri wudlu buat shalat maghrib dan Isya’ (FYI, peserta dilarang bawa jam dan hape, jadi kami nggak tau tepatnya jam berapa). Dan karena aku lagi nggak shalat, jadilah aku & teman-teman yang baru nggak shalat diminta bantu angkat tas peserta ke lokasi. Kami turun ke tempat pemberhentian truk. Okesip,  naiknya ke lokasi bawa tas ransel peserta (u know what gimana berat tas ransel buat kemah 3 hari)   bakar kolesterol lagi. ALLAH Maha Baik :’)
Sampai di aula (aulanya terbuka alias nggak ada dinding), peserta shalat maghrib dan isya’ berjama’ah lalu bahas kontrak belajar. Sejam berlalu, selesai bahas kontrak belajar yang agak heboh, tiba-tiba hujan! Semua peserta heboh karena tempatnya yang bocor dan air hujan masuk ke aula. Semua diminta pakai jas hujan. Aku cari jas hujanku di tas, dan jreeeng....aku baru sadar jas hujan + sandal tertinggal di motor. Agak panik tapi tetep stay cool :D
Akhirnya karena hujan, malam itu peserta putri tidur di ‘ruang’ panitia dan peserta putra pasang tenda di aula. Malam pertama tidur di lokasi udah nggak nyaman, walaupun lampu udah dimatiin tapi masih kerasa ada panitia yang nyorotin lampu senter ke muka peserta. Mataku pura-pura terpejam, tapi belum tidur. Dan entah jam berapa, peserta putri dibangunkan untuk mendirikan tenda.
Semenit, dua menit, kelompokku bingung cara pasang tenda. Heiii, kami bukan anak pramuka dan belum pernah pasang tenda. *malu*. Alhamdulillah, peserta putra dibangunkan buat bantu pasang tenda. ALLAH Maha Baik.
Setelah pasang tenda, peserta diminta wudlu untuk persiapan shalat subuh. Lho, udah pagi ya? ._.
Singkatnya, hari kedua Laskar dipenuhi sesi materi. Dari pagi sampai malam. Mantap!
Materi pertama, tentang Analisis Sosial pembicara mas Kharis Pradana. Kami diminta turun ke masyarakat untuk mewawancarai penduduk sekitar waduk sermo.
Kelompokku (kelompok 15) memilih jalan turun untuk mencari penduduk. Alhamdulillah, nemu warung ada seorang bapak berumur 40 tahun yang bernama Bapak Nurwanto sedang minum kopi disana. Menurutkku, bapak ini termasuk penduduk yang kritis, beliau paham benar mengenai kondisi waduk sermo. Berikut ringkasan wawancara kami:
“Waduk sermo dibangun pada masa presiden Suharto tahun 1995. Sebelum dibangunwaduk, penduduk disana sekitar 700, namun setelah dibangun waduk, penduduknya berkurang karena lahan mereka tergusur. Mereka yang lahannya tergusur diminta hijrah ke Bengkulu, dan sekitarnya. Namun setelah waduk sermo dibangun, penduduk merasa transportasi lebih mudah karena sebagai mobilitas PDAM (pengairan warga) sehingga jalan raya diperbaiki. Dengan potensi waduk yang lumayan besar, sayang sekali apabila tidak dimaksimalkan dengan baik. Sedangkan waduk sermo sendiri yang mengelola adalah pusat, bukan pemerintah daerah, jadi terkesan sulit untuk ikut andil dalam mengelola.”
Materi selanjutnya bertema Merancang Masa Depan oleh Pak Fatan. Sepertinya sesi materi II & III ini menjadi salah satu momen paling menyenangkan saat Laskar, karena materi bagus & tidak membosankan. “Jadilah Elang yang mampu terbang tinggi walaupun sendirian, jangan seperti burung emprit yang hanya berani terbang bersama-sama namun hanya terbang rendah.”
Materi IV tentang Nasionalisme dari dosen Filsafat. Hmm, bisa membayangkan keadaan di lokasi saat itu? Sehabis hujan + lapar + dengerin materi nasionalisme dari dosen= ngantuk berat! Hampir 75% peserta menahan kantuk dengan wajah yang sayu dan beberapa kali tertidur. Maafkan kami...
Sehabis maghrib, Materi V tentang Gerakan Mahasiswa. Ini juga nggak kalah ngantuknya. Materi selanjutnya diisi Presiden Mahasiswa yaitu Mas Yanuar Pahlevi tentang KeBEMan. Ini lumayan seru, jadi nggak ngantuk. Hehe.
 Setelah materi seharian, sebelum tidur kami 'dimarahin' komdis dulu. Tentang apalagi kalau bukan kesalahan kami di hari itu. Walaupun badan udah benar-benar lelah tapi diusahakan mendengar dan memahami setiap perkataan para komdis. Okesip.
Singkat cerita, karena Hari Minggu ada wawancara Astra Leadership Development Chalenge jadilah aku bersama 5 orang temen lain yang juga ada acara di hari itu. Nah saat aku mau ambil kunci motor & STNK ke panitia serta menanyakan dimana motorku, aku dibuat kaget karena ternyata motorku ditinggal di Kopma! wah, terus aku pulang naik apa? diantar siapa? *mulai panik*
Akhirnya kita berenam diminta berdiri di depan ruang panitia LASKAR untuk ditanyain alasan izin. Aku, Resi dan Mas Geografi izin wawancara ALDC, Michael (muslim lho) izin karena jadi panitia Tryout, Nitha izin karena diare (efek makan ubi), Allam izin karena mau ke Solo. Semua alasan diterima! Tibalah waktu musyawarah kita pulang naik apa (dengan siapa).
            Koor panitia udah mulai nanya ke panitia yang bisa nganter kita sampai terminal. He? Wait. What did she say? Terminal? Taraaam, yak! Kami ‘hanya’ diantar sampai terminal Wates (kalau nggak salah) dan balik ke kampus naik bus. Okesip, ini berapa jam kalau nunggu bus? (ah lupakan sejenak tentang bus, masalahnya aku ke terminal sama siapa?)
            “Resi dibonceng mas A. Kamu dibonceng mas B. Michael dibonceng mas C. Nitha dibonceng mas D, Allam dibonceng mas E, dan kamu... (mbaknya ngliat aku)”
*muka udah datar dan melas*
“kamu sama mbak F”
*reflek senyum lebar-lebar* Alhamdulillaah, ALLAH Maha Baik.

Hmm, walaupun nunggu bus lama banget, (sampai si Michael tidur nyenyak di bus) akhirnya sampai kampus juga dengan selamat. Alhamdulillaah.
Dari jalan raya ke gelanggang jalan kaki dengan hati gelisah, ‘nah, motorku disimpe dimana? Masak 3 hari Cuma taroh luar? Aku kan nggak kunci stang’
Dari kejauhan kulihat motorku bertengger manis di halaman masih lengkap dengan tas kresek putih yang berisi air mineral + sandal jepit yang ketinggalan. Ah, terimakasih ALLAH yang Maha Menjaga. Aku mendapat banyak pelajaran dari LASKAR kali ini. ENGKAU SELALU BAIK, MAHA BAIK! :’)