Minggu, 26 Mei 2013

Youth Environmental Leader Summit 2013



Alhamdulillah, tanggal 16-19 Mei lalu berkesempatan mengikuti acara Youth Environmental Leader Summit 2013 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

Bersyukur sekali rasanya dapat kesempatan bertemu dengan orang-orang yang begitu menginspirasi saya :) walaupun dulu daftar acara ini H-2 jam penutupan, bikin esainya pun buru-buru karena ada kuliah. Tapi rizki memang tak kemana. Alhamdulillah lolos! 

Acara ini merupakan sebuah konferensi selama sekitar 4 hari di Surabaya, pesertanya sebanyak 92 pemimpin muda di bidang lingkungan Se-Indonesia, mulai dari Universitas Negeri Medan, sampai dengan Universitas Hasanudin Makassar.

Tanggal 16-18 Mei para peserta melakukan pelatihan di Pusat Perlindungan Lingkungan Hidup Seloliman Mojokerto. Aaaaaakkk this is one of the most beautiful place that I ever visited \(^.^)/

 

 

Gimana enggak, semua penuh pohon dan gemericik air. Makanannya berasal dari tempat itu juga, dari nasi, lauk, sayur, sampai sabun pencuci tangan dari asem. Briliant \(^.^)/ 

Semoga suatu saat bisa ke Surabaya lagi, walaupun agak panas tapi saya sangat mengagumi pohon-pohon di sekitar jalan raya yang begitu rimbun...


YELS 2013,
GO GREEN AND BE ENVIRONMENT!!!


-peserta YELS dari UGM ada 10 orang-

 

Jumat, 22 Maret 2013

LASKAR BEM KM UGM 2013


LASKAR BEM KM UGM 2013




Hari Jum’at-Minggu tanggal 22-24 Februari 2013 lalu akan menjadi salah satu hari yang tak terlupakan, hari yang menurutku menuai banyak hikmah di dalamnya, hari yang membuatku belajar arti perjuangan, rasa syukur, kegigihan, kejujuran, kedisiplinan, kesabaran, dan keikhlasan.
Dimulai dari rasa semangatku untuk mengikuti Laskar (Latihan Dasar Kepemimpinan) BEM KM UGM, sejak Technical Meeting Laskar aku menjadi salah satu anggota kelompok yang paling rajin membahas tugas, nge-sms anggota lain, dan mengerjakan tugas kelompok.
Namun ALLAH menguji semangatku dengan memberikan masalah satu-per-satu. Masalah pertama, mulai dari anggota kelompok yang mengundurkan diri ikut Laskar. Hari Jum’at siang, saat pulang kuliah aku sempatkan melihat pengumuman ALDC (Astra Leadership Development Challege), sebuah pelatihan training untuk mahasiswa UGM semester 2-4 selama sebulan. Alhamdulillah, aku lolos seleksi I (CV screening) bersama 79 pendaftar lain. Namun siapa sangka bahwa tahap seleksi II (FGD dan interview) akan dilaksanakan hari Minggu, 24 Februari 2013. Just a little shock. Oke, mulai panik. Galau. Aku harus ikut yang mana? Laskar atau seleksi ALDC? Laskar dilaksanakan di Waduk Sermo Kokap Kulonprogo, sedangkan ALDC dilaksanakan di UGM. Dua tempat yang menurutku berjarak jauh. Which one that I should choose?
Jum’at jam 2 siang aku masih galau di kamar. Aku belum packing, dan mulai sms ke pemandu Laskar untuk dicarikan solusi masalahku. Setelah melewati masa galau akut selama beberapa jam, aku memutuskan berangkat ke Gelanggang untuk ikut Laskar. Saat itu, aku nggak bawa makan malam dan belum nge-print Life Mapping. Mulai panik (lagi). Baca istighfar, tarik nafas dan ucapkan All iz well. Akhirnya ke Food Court mau beli makan malam, eh disana ketemu Tia (teman satu kelompok) yang bilang juga nggak bawa makan malam dan ditawari makan roti aja. Oke, nggak jadi beli. Pas balik jalan ke Gelanggang, aku lewat ruang UKM Pramuka, nggak sengaja liat ada printer, tiba-tiba otak bersinar “cling”.
*ketok pintu*
“Maaf kak, saya boleh minta tolong numpang nge-print nggak?”, kataku pada mas-mas yang ada di dalam ruang.
“Oh boleh-boleh, sini masuk aja dek.”
            Setelah beberapa menit nunggu, Life Mapping udah ditangan. Bahagia. ALLAH Maha Baik. Menjelang keberangkatan Laskar, aku mulai bingung nasib motorku mau digimanain. Peserta menuju lokasi harus naik truk. Tiba-tiba salah satu kakak panitia (kayaknya Koor pemandu) mendatangi aku,
“Kamu yang besok Minggu mau izin itu ya dek? Motornya dimana?”
“iya kak, motor saya disitu” (nunjuk kedepan)
“kunci sama STNK nya mana? Nanti biar motornya dibawa panitia.”
Huah, alhamdulillah. ALLAH Maha Baik. *ngasih kunci dan STNK ke kakaknya*
Kira-kira jam 16.30 peserta diminta naik ke truk yang ada di depan Gelanggang. Disana ada 3 truk, truk pertama dan kedua untuk peserta putra, dan truk ketiga untuk peserta putri. Karena pakai rok panjang, aku agak kesusahan naik ke truk yang tinggi, tapi alhamdulillah bisa. ALLAH Maha Baik. Tiba-tiba panitia meminta 15 peserta putri turun dari truk. Aku yang saat itu di posisi belakang nggak mau ikut turun karena pakai rok panjang. Setelah 15 anak itu turun, mereka diminta pindah ke truk kedua; truk peserta putra. Alhamdulillah, bersyukur banget nggak ikut turun. ALLAH Maha Baik.
Perjalanan ke Waduk Sermo naik truk kemarin benar-benar nggak akan terlupakan, di sepanjang jalan sering diwarnai jeritan peserta putri karena keadaan truk yang bergoyang-goyang. Salah satu hal menarik saat berada di truk adalah saat ada peserta lain yang mengajak aku berkenalan, namanya mbak XXXXX angkatan 2011. Setelah beberapa menit ngobrol, tiba-tiba beliau bertanya
“Kamu emang pakai rok panjang terus ya?”
“ha? Iya. hehe”
“Kenapa kok pakai rok panjang?”
“karena......”
*setelah beberapa menit ngobrolin tentang menutup aurat...*
“okedeh, besok sekali-kali aku belajar pakai jilbab ke kampus, hehe“
Jadi intinya, beliau belum mau pakai jilbab (menutup aurat) karena takut kelihatan jelek, takut nggak disukai cowok (masih mau pacaran). Lho, kalau memang laki-laki itu baik, harusnya dia lebih menyukai perempuan yang berjilbab. Iya nggak? B)
Entah perjalanan sampai dimana, tiba-tiba turun hujan. Great! Langsung narik terpal di depan truk buat ‘payung’ (yang mungkin biasanya buat nutupin sapi).
“Ini masih berapa lama lagi mas?”, tanya temen ke mas-mas yang jagain di belakang.
“ya kira-kira 40 menit lagi”.
What? 40 menit? Aku kira 10 menit lagi udah sampe.
Dan makin lama langit makin gelap. Bisa bayangin nggak, naik truk+hujan+ditutupin terpal+gelap+nglewatin jalan yang naik-turunnya subhanallah... sepanjang perjalanan aku nggak berhenti dzikir. Gelap! Apalagi kalau truk tiba-tiba berhenti dan masnya bilang: siap-siap jalannya naik. Takut kalau tiba-tiba truknya nggak kuat naik atau gimana. Lengkap sudah sensasinya. Selama itu pula aku sempat berpikir: ini jalan di dunia seserem ini, nah besok kalau nglewatin jembatan Shirat juga ngeri banget. MasyaAllah.
Setelah beberapa jam ngerasain sensasi yang luaarr biasa, akhirnya sampai juga! Bener-bener bersyukur & lega banget bisa turun dari truk. Tapi nggak sampai disitu, buat sampe lokasi Laskar kita harus jalan naik –lumayan bisa bakar kolesterol.
Sekitar jam 19.00 kita antri wudlu buat shalat maghrib dan Isya’ (FYI, peserta dilarang bawa jam dan hape, jadi kami nggak tau tepatnya jam berapa). Dan karena aku lagi nggak shalat, jadilah aku & teman-teman yang baru nggak shalat diminta bantu angkat tas peserta ke lokasi. Kami turun ke tempat pemberhentian truk. Okesip,  naiknya ke lokasi bawa tas ransel peserta (u know what gimana berat tas ransel buat kemah 3 hari)   bakar kolesterol lagi. ALLAH Maha Baik :’)
Sampai di aula (aulanya terbuka alias nggak ada dinding), peserta shalat maghrib dan isya’ berjama’ah lalu bahas kontrak belajar. Sejam berlalu, selesai bahas kontrak belajar yang agak heboh, tiba-tiba hujan! Semua peserta heboh karena tempatnya yang bocor dan air hujan masuk ke aula. Semua diminta pakai jas hujan. Aku cari jas hujanku di tas, dan jreeeng....aku baru sadar jas hujan + sandal tertinggal di motor. Agak panik tapi tetep stay cool :D
Akhirnya karena hujan, malam itu peserta putri tidur di ‘ruang’ panitia dan peserta putra pasang tenda di aula. Malam pertama tidur di lokasi udah nggak nyaman, walaupun lampu udah dimatiin tapi masih kerasa ada panitia yang nyorotin lampu senter ke muka peserta. Mataku pura-pura terpejam, tapi belum tidur. Dan entah jam berapa, peserta putri dibangunkan untuk mendirikan tenda.
Semenit, dua menit, kelompokku bingung cara pasang tenda. Heiii, kami bukan anak pramuka dan belum pernah pasang tenda. *malu*. Alhamdulillah, peserta putra dibangunkan buat bantu pasang tenda. ALLAH Maha Baik.
Setelah pasang tenda, peserta diminta wudlu untuk persiapan shalat subuh. Lho, udah pagi ya? ._.
Singkatnya, hari kedua Laskar dipenuhi sesi materi. Dari pagi sampai malam. Mantap!
Materi pertama, tentang Analisis Sosial pembicara mas Kharis Pradana. Kami diminta turun ke masyarakat untuk mewawancarai penduduk sekitar waduk sermo.
Kelompokku (kelompok 15) memilih jalan turun untuk mencari penduduk. Alhamdulillah, nemu warung ada seorang bapak berumur 40 tahun yang bernama Bapak Nurwanto sedang minum kopi disana. Menurutkku, bapak ini termasuk penduduk yang kritis, beliau paham benar mengenai kondisi waduk sermo. Berikut ringkasan wawancara kami:
“Waduk sermo dibangun pada masa presiden Suharto tahun 1995. Sebelum dibangunwaduk, penduduk disana sekitar 700, namun setelah dibangun waduk, penduduknya berkurang karena lahan mereka tergusur. Mereka yang lahannya tergusur diminta hijrah ke Bengkulu, dan sekitarnya. Namun setelah waduk sermo dibangun, penduduk merasa transportasi lebih mudah karena sebagai mobilitas PDAM (pengairan warga) sehingga jalan raya diperbaiki. Dengan potensi waduk yang lumayan besar, sayang sekali apabila tidak dimaksimalkan dengan baik. Sedangkan waduk sermo sendiri yang mengelola adalah pusat, bukan pemerintah daerah, jadi terkesan sulit untuk ikut andil dalam mengelola.”
Materi selanjutnya bertema Merancang Masa Depan oleh Pak Fatan. Sepertinya sesi materi II & III ini menjadi salah satu momen paling menyenangkan saat Laskar, karena materi bagus & tidak membosankan. “Jadilah Elang yang mampu terbang tinggi walaupun sendirian, jangan seperti burung emprit yang hanya berani terbang bersama-sama namun hanya terbang rendah.”
Materi IV tentang Nasionalisme dari dosen Filsafat. Hmm, bisa membayangkan keadaan di lokasi saat itu? Sehabis hujan + lapar + dengerin materi nasionalisme dari dosen= ngantuk berat! Hampir 75% peserta menahan kantuk dengan wajah yang sayu dan beberapa kali tertidur. Maafkan kami...
Sehabis maghrib, Materi V tentang Gerakan Mahasiswa. Ini juga nggak kalah ngantuknya. Materi selanjutnya diisi Presiden Mahasiswa yaitu Mas Yanuar Pahlevi tentang KeBEMan. Ini lumayan seru, jadi nggak ngantuk. Hehe.
 Setelah materi seharian, sebelum tidur kami 'dimarahin' komdis dulu. Tentang apalagi kalau bukan kesalahan kami di hari itu. Walaupun badan udah benar-benar lelah tapi diusahakan mendengar dan memahami setiap perkataan para komdis. Okesip.
Singkat cerita, karena Hari Minggu ada wawancara Astra Leadership Development Chalenge jadilah aku bersama 5 orang temen lain yang juga ada acara di hari itu. Nah saat aku mau ambil kunci motor & STNK ke panitia serta menanyakan dimana motorku, aku dibuat kaget karena ternyata motorku ditinggal di Kopma! wah, terus aku pulang naik apa? diantar siapa? *mulai panik*
Akhirnya kita berenam diminta berdiri di depan ruang panitia LASKAR untuk ditanyain alasan izin. Aku, Resi dan Mas Geografi izin wawancara ALDC, Michael (muslim lho) izin karena jadi panitia Tryout, Nitha izin karena diare (efek makan ubi), Allam izin karena mau ke Solo. Semua alasan diterima! Tibalah waktu musyawarah kita pulang naik apa (dengan siapa).
            Koor panitia udah mulai nanya ke panitia yang bisa nganter kita sampai terminal. He? Wait. What did she say? Terminal? Taraaam, yak! Kami ‘hanya’ diantar sampai terminal Wates (kalau nggak salah) dan balik ke kampus naik bus. Okesip, ini berapa jam kalau nunggu bus? (ah lupakan sejenak tentang bus, masalahnya aku ke terminal sama siapa?)
            “Resi dibonceng mas A. Kamu dibonceng mas B. Michael dibonceng mas C. Nitha dibonceng mas D, Allam dibonceng mas E, dan kamu... (mbaknya ngliat aku)”
*muka udah datar dan melas*
“kamu sama mbak F”
*reflek senyum lebar-lebar* Alhamdulillaah, ALLAH Maha Baik.

Hmm, walaupun nunggu bus lama banget, (sampai si Michael tidur nyenyak di bus) akhirnya sampai kampus juga dengan selamat. Alhamdulillaah.
Dari jalan raya ke gelanggang jalan kaki dengan hati gelisah, ‘nah, motorku disimpe dimana? Masak 3 hari Cuma taroh luar? Aku kan nggak kunci stang’
Dari kejauhan kulihat motorku bertengger manis di halaman masih lengkap dengan tas kresek putih yang berisi air mineral + sandal jepit yang ketinggalan. Ah, terimakasih ALLAH yang Maha Menjaga. Aku mendapat banyak pelajaran dari LASKAR kali ini. ENGKAU SELALU BAIK, MAHA BAIK! :’)


Kamis, 21 Februari 2013

Maha Pencemburu


Jika aku cemburu,

ketika sahabat yang kusayang memiliki orang lain yang lebih disayang,

menomorduakan aku meski keperluanku tak bisa lagi ditunda,

sedangkan aku selalu mendahulukannya kapan pun dia butuh.


Jika aku cemburu,

karena orang tuaku tak menyempatkan sapa dalam hariku,

terlalu peduli pada orang-orang lain dan `melupakan` kewajibannya mendidik keluarga,

sedangkan aku selalu menyebutnya dalam setiap doa.


Bagaimana dengan Ia?

Sang Pencipta Segala, yang juga Maha Pencemburu?


Bagaimana mungkin Ia tidak merasa begitu cemburu?

Ketika kita dengan santai mengabai panggilannya yang selalu nyaring berkumandang,

hanya karena kesibukan yang tak seberapa dan bisa ditinggalkan sejenak saja.

Sedangkan Ia Pemberi Waktu, yang meminta sepersekian dari seluruh waktu yang diberi-Nya,

untuk menyapa-Nya, untuk meminta perlindungan-Nya, untuk mengharap maghfirah-Nya.


Bagaimana mungkin Ia tidak merasa begitu cemburu?

Ketika kita selalu sempatkan mengungkap kerinduan pada orang-orang yang kita sayang,

sedangkan tak pernah berusaha meluangkan waktu untuk membaca surat-surat cinta-Nya,

kerinduan yang penuh keindahan dan ketenteraman untuk kita, atas kasih sayang-Nya.


Bagaimana mungkin Ia tidak merasa begitu cemburu?

Ketika ada yang kita dahulukan, ada yang lebih kita pikirkan, ada yang jauh kita pedulikan,

ada yang sangat kita sayang, ada yang membuat kita mudah menangis ketika kehilangannya,

sedangkan Ia yang selalu ada, Ia yang tak pernah pergi meninggalkan kita, Ia yang memiliki semesta,

hanya kita datangi ketika kita tak mengerti lagi harus berbuat apa.


Bukankah menyakitkan,

ketika kita hanya menjadi pendengar yang baik bagi seluruh duka,

tanpa pernah diberi kabar bahagia dan dilupakan begitu saja?


Ah, betapa Maha Baik Ia,

yang tak pernah sekalipun menyengsarakan kita karena mengacuhkan-Nya,

namun dengan kelembutan hati Ia selalu mengingatkan fitrah hati kita,

untuk senantiasa membutuhkan-Nya, senantiasa menginginkan kehadiran-Nya,

tanpa kita sadari, tanpa kita mengerti, tanpa kita rasakan sepenuhnya.


Ia biarkan hati kita meronta, hati kita berteriak,

mengharapkan kesucian kembali untuk dekat pada-Nya.


Yaa Muqallibal quluub, tsabit qalbii 'ala diinik...

Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah...



by Khadijah Auliaur Rohmaani

Jumat, 15 Februari 2013

Akhlaq Seorang Muslim dalam Menghadapi Ujian



Setiap manusia pasti akan diuji ALLAH dengan berbagai cobaan, baik berupa musibah maupun nikmat. Kalau saya pribadi, sering merasa bahwa ujian saya berupa waktu luang. Setiap saya mempunyai waktu luang, saya akan lebih malas dan tidak produktif. Menghabiskan banyak waktu untuk ber“online ria” sehingga lupa dengan kewajiban lain.

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS. Al-Baqarah:214)



            Di Al-Qur’an sudah dijelaskan mengenai ujian bagi manusia, diantaranya:

1.                   Ujian keimanan

“ Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. At-Taubah:16)

2.                   “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"[1]. “ (QS. Al-Baqarah:155-156)
[1] (Artinya: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. Kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.)

3.                   “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali Imran: 186)


Lalu, bagaimana seharusnya sikap seorang muslim dalam menghadapi ujian?

1.      Mengetahui bahwa kehidupan di dunia bersifat fluktuatif (tidak tetap) dan sementara. Hal ini terdapat pada QS. Al Hadid ayat 20:
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

2.      Mengenali diri kita sebagai manusia.
ALLAH akan menguji kita dengan cobaan atau nikmat yang berhubungan dengan sisi terlemah kita. Semisalnya bahwa kita adalah seorang pemarah, maka ALLAH akan menguji kita dengan kejadian yang dapat membuat kita marah. Apabila kita tidak mampu menghadapi ujian tersebut maka kita akan terus diuji seperti itu hingga kita “naik kelas” dan dinyatakan “lolos”

3.      Yakinlah bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. At-Thalaaq:3)
ALLAH akan memberi rezeki atau jalan keluar dengan cara yang tidak kita sangka-sangka. Syaratnya adalah: bertaqwa dan bertawakal kepada ALLAH, jangan pernah berharap pada makhluq.

4.      Yakinlah ada balasan baik di sisi ALLAH.
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah:261)

5.      Meneladani sikap orang terdahulu yang lulus dari ujian ALLAH.
Rasulullah bertahan dengan ujian berat dari ALLAH, seandainya dulu beliau menyerah dengan ujian yang diberikan, mungkin kita tidak akan menjadi muslim seperti ini.

6.      Beriman Qadarallah dan Sunatullah. ALLAH mengatur segalanya dengan sangat baik dan rapi.

7.      Menjauhi perbuatan yang merusak kesabaran dan ketegaran. Apabila kita diberi ujian, maka seharusnya kita mendekati orang-orang yang dapat memberikan energi positif, nasihat yang dapat membuat kita semangat. Namun kebanyakan manusia cenderung bercerita kepada teman-teman yang senasib sehingga jadi galau kuadrat, sedih kuadrat.

8.      Senantiasa berdo’a kepada ALLAH dalam meminta pertolongan supaya diberi jalan keluar yang terbaik.


Untuk kakak yang kusayangi karena ALLAH




Untuk seorang kakak yang kusayangi karena ALLAH,
seorang wanita shalihah dan bidadari duniaku: mbak Shinta...
 Bismillahirrahmanirrahiim,

Assalamu’alaykum wr wb...

Ingatkah engkau mbak, ketika awal mula kita bertemu? Saat itu... aku masih dengan imanku yang masih compang-camping... Dan dengan perlahan tapi pasti, engkau mengajak kami menuju jalan ke surga-NYA.


Engkaulah mbak, yang pertamakali mengajari Devi untuk berani bermimpi. 50 mimpi yang kutulis bersamamu, sungguh telah Devi coret 90% :’)


Ingatkah engkau mbak, saat bulan puasa Devi di masjid sekolah dan tiba-tiba diajak mbak Shinta untuk kajian di UNY? Dari situ Devi mulai dekat dengan mbak Shinta.


Ingatkah engkau mbak, saat ada kegiatan mbak Shinta sering mengajak Devi dan kita berboncengan? Ke festival mentoring, ke kampus, bertemu teman-teman mbak Shinta.


Ingatkah engkau mbak, setiap bulan Ramadhan mbak Shinta selalu mengajak Devi I’tikaf bareng? mbak Shinta dengan sabar menjemput dan mengantar Devi pulang. Dan dari I’tikaf itu Devi belajar sangat banyak hal menjadi seorang akhwat.


Ingatkah engkau mbak, saat kita mengadakan makrab akhwat di rumah mbak Lina? Mbak Shinta kesana naik sepeda dengan jauh yang berkilo-kilo meter. Sungguh mbak, saat itu Devi tak habis pikir mengapa ada wanita secantik mbak Shinta rela mengayuh sepeda ‘hanya’ demi menemani kami.


Ingatkah engkau mbak, setiap Jum’at mbak Shinta selalu datang ke sekolah dengan membawa cahaya tersendiri bagi kami? Bagi kami, mbak Shinta bagai oase di padang pasir. Namun setelah berpisah dari mbak Shinta, kami harus tertatih mencari cahaya untuk kami sendiri.


Ingatkah engkau mbak, saat ada rolling kelompok ADS di SD IT setahun lalu? Sungguh, disitu Devi menangis mendengar doa Rabithah dari mbak Shinta. Selesai acara mbak Shinta bilang: “Nanti Devi akan bersama kelompok yang lebih kondusif, dan mbak yang baru insyaAllah lebih baik”. Ntahlah, Devi tak paham dengan penilaian baik itu seperti apa. Yang Devi rasakan, menjadi binaan mbak Shinta akan selalu berbeda dengan yang lain. Mbak Shinta seperti candu bagi kami. Mbak Shinta selalu mempunyai cara yang indah untuk menjelaskan semuanya.


Dan pada akhirnya, waktu akan terus berjalan. Mbak Shinta sekarang sudah mendapatkan ikhwan yang dikirim ALLAH. Devi yakin, penduduk surga pasti sedang cemburu mengetahui bahwa satu bidadarinya telah dipinang. Terimakasih untuk segala hal yang telah mbak Shinta beri untuk Devi. Sungguh tak ternilai, semoga ALLAH membalas kebaikan mbak Shinta dengan balasan pahala yang berlipat. Dan Devi yakin mbak Shinta akan melahirkan generasi hebat untuk agama ini. Aamiin J


Untuk suami mbak Shinta, Devi cuma mau bilang: “HOW A LUCKY MAN YOU ARE! Mas, tolong jaga mbak Shinta baik ya. Bawa mbak Shinta dan anak-anaknya ke surga-NYA J
Barakallahumma wa baraka’alaika wal jama’a bainnakuma fii khoirin.




Wassalamu’alaykum wr wb.


with love, Devi